Tampilkan postingan dengan label chinese food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chinese food. Tampilkan semua postingan

8/05/2010

Chinese Hot Pot

Hot pot (Chinese: 火鍋; pinyin: huǒ guō), less commonly Chinese fondue or steamboat, refers to several East Asian varieties of stew, consisting of a simmering metal pot of stock at the center of the dining table. While the hot pot is kept simmering, ingredients are placed into the pot and are cooked at the table. Typical hot pot dishes include thinly sliced meat, leafy vegetables, mushrooms, wontons, egg dumplings, and seafood. The cooked food is usually eaten with a dipping sauce. In many areas, hot pot meals are often eaten in the winter.


History

The Chinese hot pot boasts a history of more than 1000 years. While often called "Mongolian hot pot”, it is unclear if the dish actually originates in Mongolia. Mongol warriors had been known to cook with their helmets, which they used to boil food, but due to the complexity and specialization of the utensils and the method of eating it, hot pot cooking is much better suited to a sedentary culture. A nomadic household will avoid such highly specialized tools, to save volume and weight during migration. Both the preparation method and the required equipment are unknown in the cuisine of Mongolia of today.

Hot pot cooking seems to have spread to northern China during the Tang Dynasty (A.D. 618-906). In time, regional variations developed with different ingredients such as seafood. By the Qing Dynasty, the hot pot became popular throughout most of China. Today in many modern homes, particularly in the big cities, the traditional coal-heated steamboat or hot pot has been replaced by electric, gas or induction cooker versions.

Because hot pot styles change so much from region to region, many different ingredients are used.

Source: www.wikipedia.com

See also: loewy, table 8, chinese food



7/13/2010

A Chinese buffet restaurant in the United States of America

American Chinese food tends to be cooked very quickly with a great deal of oil and salt[citation needed]. Many dishes are quickly and easily prepared, and require inexpensive ingredients. Stir-frying, pan-frying, and deep-frying tend to be the most common cooking techniques which are all easily done using a wok[citation needed]. The food also has a reputation for high levels of MSG to enhance the flavor. The symptoms of a so-called Chinese restaurant syndrome or "Chinese food syndrome" have been attributed to a glutamate sensitivity, but carefully controlled scientific studies have not demonstrated such negative effects of glutamate[citation needed]. Market forces and customer demand have encouraged many restaurants to offer "MSG Free" or "No MSG" menus.

Most American Chinese establishments cater to non-Chinese customers with menus written in English or containing pictures.[citation needed] If separate Chinese-language menus are available, they typically feature delicacies like liver, chicken feet or other exotic meat dishes that might deter Western customers[citation needed]. In New York's Chinatown, the restaurants were known for having a "phantom" menu with food preferred by Chinese and Chinese Americans, but believed to be disliked by non-Chinese Americans.

American Chinese cuisine often uses ingredients not native and very rarely used in China. One such example is the common use of western broccoli (xi lan, 西蘭) instead of Chinese broccoli (gai lan, 芥蘭) in American Chinese cuisine.[citation needed] Even more divergent are American stir-fry dishes inspired by Chinese food, that may contain brown rice instead of white, with grated cheese; milk products are almost always absent from traditional Chinese food.

Source: www.wikipedia.com

See Also: Loewy, Table 8

7/12/2010

Makanan Favoritmu, Lingkunganmu

By: Ratih

Ciri dari identitas seseorang menurut para ahli, salah satunya dilihat dari makanan favorit. Sebab makanan yang kita suka berasal dari lingkungan tempat kita hidup dan bergaul. Benarkah? Kita telisik dari apa yang terjadi di masa lalu baru kemudian kita lihat diri kita sekarang. Sejarah dari rasa berkaitan dengan bagaimana para petani di masa lalu. Cara bagaimana mereka mengatasi tidak pastinya panen, persediaan makanan dan tak menentunya harga-harga. Dari satu tempat ke tempat lain, makanan bervariasi dalam bahan pembuatnya dan cara penyajiannya. Makanan merefleksikan lingkungan tempat sebuah masyarakat hidup, meski tak selalu ditentukan olehnya. Masyarakat yang hidup dekat laut cenderung mengkonsumsi ikan daripada mereka yang hidup dekat pegunungan. Pengecualian untuk Pulau Sicily yang masyarakatnya tidak suka mengkonsumsi ikan, dan Inggris di masa lalu begitu menghindari ikan kecuali hanya beberapa spesies saja dengan metode penyajian tertentu. Kondisi lingkungan merupakan satu tantangan tersendiri untuk menciptakan satu jenis makanan baru misalnya di daerah bersalju (Freedman. 2007).


Pandangan masyarakat mengenai makanan dan lingkungan tempat mereka hidup sehari-hari menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan lewati waktu serta benua. Kentang dan kacang dari dunia ketiga diperkenalkan ke Eropa dan Cina melewati berbagai rintangan; kuliner khas Islam ternyata menjadi model bagi makanan Eropa di abad pertengahan. Hubungan antar negara diawali dengan pertukaran jenis makanan, baik bahan makanan ataupun cara penyajiannya. Selain itu, di Portugal makanan terkait dengan filosofi hidup: “Men are not measurable by their size.” So, makanan pun tak dilihat dari besarnya porsi tapi dinikmati dari kuatnya rasa dengan aroma khas demi menyimpan kenangan. Makanan favorit disana: sup sayuran dengan daging. Tak heran, mereka begitu semangat mencari bumbu-bumbu khas keluar dari negerinya. Demi “menyimpan kenangan.” (Wilkins. 1996).


Bagaimana denganmu? Apakah rela berjuang keluar dari zona nyamanmu sehari-hari demi semangkuk sup? Kalau makanan yang kamu cari itu memang enak, worthed untuk diburu. Chinese food kamu bisa hunting di Loewy dan Table 8, sedangkan makanan Eropa di Pizza Hut, Tamani dan Marzano. Keluar dari lingkungan sendiri berarti mengenal “dunia lain,” meski tak usah pergi terlalu jauh dari Jakarta. Lingkungan restoran tentu menawarkan suasana yang berbeda dengan rumah. Suasana yang tak biasa kadang membuat kita ingin datang lagi untuk melepas jenuh dengan rutinitas.


Daftar Pustaka:


Freedman, Paul (Editor). 2007. Food: the History of Taste. California: University of California Press

Wilkins, John. 1996. Food In European Literature. Exeter: Intellect Books.


7/09/2010

Simbol Makanan

Alih Bahasa Oleh: Ratih

Simbolisme dan permainan kata mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan di China, termasuk makanan. Itulah sebabnya banyak makanan disajikan selama perayaan Tahun Baru. Cukup menarik bukan? Berikut makna-makna dibalik makanan:

rumput laut hitam: kesejahteraan

kacang kering: kebahagiaan, kacang segar kurang disukai karena berwarna putih yang diartikan sebagai kematian

telur: kesuburan

dadar gulung: kemakmuran

kacang leci: ikatan erat dalam keluarga dan sajian untuk para dewa

mie: umur panjang

jeruk: kesejahteraan dan keberuntungan

kacang-kacangan: umur panjang

pomelo: kelimpahan harta, kemakmuran dan keluarga besar

jeruk mandarin: kesejahteraan dan keberuntungan

lotus root: keberuntungan dalam keluarga, berarti kebersamaan dengan para anggota keluarga

permen: harapan untuk hidup yang indah

kue beras: doa agar seorang anak bertumbuh kembang dengan baik

Setelah tahu makna dibalik makanan, maka berhati-hatilah memilih makanan di restoran Loewy atau Table 8 yang menyajikan aneka chinese food.


Sumber:

Vegetarian Times. Edisi Februari 2003.

7/08/2010

Beruang Tak Lewatkan Peluang, Harimau Suka Buruan yang Wow

By: Ratih

Saat ini dongeng sebelum tidur semakin jarang dilakukan karena banyaknya media elektronik yang “menemani” anak sebagai pengantar tidur. Padahal dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara internalisasi nilai atau penanaman norma sejak dini. Bagi kamu yang masih punya adik kecil, keponakan atau bahkan sudah punya anak, anak-anak murid (kalau cucu belum kali ya.. we're not that old...). Salah satu cerita ini merupakan kisah klasik dari Cina yang bagus untuk diceritakan pada mereka. Dongeng ini saya baca dalam salah satu buku Cina.


Seekor beruang berdiam diri di pinggir sungai. Ia makan ikan-ikan kecil yang lewat dalam sungai tersebut. Perlahan tapi pasti dia selalu mendapatkan makanan meski apa yang dia peroleh bukan ikan-ikan besar. Hal ini diketahui oleh seekor harimau yang selalu mendapatkan buruan yang besar. Harimau merasa heran dengan beruang yang mau saja makan ikan-ikan kecil.


“Beruang..apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau dapat tak sebanding dengan pengorbanan kamu berdiri terus di pinggir sungai. Lebih baik kamu berburu denganku. Aku biasanya mendapatkan rusa besar dalam satu kali buruan,” ajak Harimau pada Beruang.


“O ya? Rusa itu kamu peroleh kapan saja?” tanya Beruang mulai tertarik dengan tawaran Harimau.

“Tentu saja tidak, kita harus memiliki strategi yang matang, tim yang solid dan mau menunggu karena rombongan rusa hanya lewat satu kali sebulan.”

“Satu kali sebulan?” Beruang mulai berpikir, pilihan mana yang lebih baik, ikan kecil yang sudah pasti ia peroleh atau rusa besar yang hanya satu kali dalam sebulan? Bagaimana dengan hari-hari selama bulan tanpa korban buruan? Beruang ini bukan jenis beruang yang hibernasi selama 3 bulan setelah memperoleh makanan. Beruang ini hanyalah beruang biasa yang hidup seperti layaknya hewan hutan lainnya, hari-hari dilalui dengan bangun dan tidur. “Seandainya aku beruang yang bisa hibernasi, tentu aku akan ikut harimau. Ah, lihatlah tubuh harimau itu begitu kurus kering, mungkin karena ia hanya mau menikmati buruan besar saja,” pikir beruang.


“Wah..sebulan sekali? Maaf ya harimau aku tidak bisa menjadi harimau yang gesit berlari. Aku juga tidak sepintar kamu dalam berstrategi menangkap rusa, aku juga tidak punya tim yang solid untuk menangkap rusa. Lagipula, aku takkan melepas ikan-ikan kecil ini untuk rusa yang belum tentu ada setiap hari. Tubuhku menjadi sebesar ini karena aku setiap hari memakan ikan kecil yang bisa kuperoleh. Aku tak memimpikan buruan yang besar yang tak mungkin kuperoleh dengan diriku dengan kemampuan seperti ini.”


Harimau merasa heran dengan keputusan beruang menolak ajakannya yang menggiurkan. Beruang merasa tak rugi apapun karena menolak ajakan harimau. Nah, dari ilustrasi ini coba tanyakan pada anak-anak kecil yang didongengi, mau menjadi seperti hewan apakah ia? Tentu saja, setiap jawaban tak ada yang benar atau salah. Pilihan untuk menjadi salah satu hewan pastinya beralasan, tergantung dari kemampuan masing-masing. Beruang menolak ajakan harimau karena dia hanya mau menjadi beruang penyuka ikan yang baik, harimau mengajak beruang karena dipikirnya ia memiliki buruan besar yang biasanya diinginkan juga oleh hewan-hewan lain. So, just be yourself. Be your best self.

Lihat juga: chinese food, minuman


7/07/2010

Faktor Penyebab Pilih Makanan Tertentu

Pengetahuan mengenai nutrisi akan membantu kita untuk meningkatkan pengetahuan tentang jumlah nutrisi yang kita perlukan, sumber makanan terbaik, dan komponen yang baik atau berbahaya bagi kesehatan. Meskipun pengetahuan tentang makanan yang baik bagi tubuh telah kita kuasai, kecenderungan kita untuk memilih makanan bukan karena gizinya.

Apakah kamu makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Tentu saja, hal pertama merupakan hal penting bagi kita namun ada saat-saat tertentu kita begitu menikmati makanan sehingga lupa akan kadar nutrisi dalam makanan tersebut kita perlukan atau tidak? Faktor-faktor seperti umur, gender, pekerjaan, gaya hidup, keluarga dan budaya mempengaruhi pilihan makanan kita sehari-hari. Kita menggunakan makanan dalam kehidupan sosial untuk mengekspresikan persahabatan, sebuah reward atau hukuman bila mengalami kegagalan. Misalnya saja, anak-anak yang diberi reward es krim bila berlaku baik atau tidak diberi permen bila nakal.


Preferensi makanan dimulai sejak lahir dan berubah seiring dengan interaksi kita dengan orang tua, teman-teman dan sahabat. Pengalaman dengan banyak orang yang berbeda, tempat dan situasi, kadang membuat kita mengubah cara makan. Rasa biasanya menjadi faktor penting yang membuat kita memilih satu makanan, selanjutnya harga dan kenyamanan tempat kita makan. Hal-hal yang menjadi pertimbangan tersebut menunjukkan siapa diri kita.


Umur merupakan faktor penting dalam memilih makanan, anak kecil lebih memilih makanan-makanan manis atau makanan yang tak asing di mulutnya. Usia sekolah sekitar 6- 10 tahun suka mencoba-coba berbagai makanan dan sudah tahu apa yang disukai atau tidak disukainya. Sementara remaja dipengaruhi oleh pilihan makan teman dalam kehidupan sosialnya.

Selain pengaruh sosial, tentu saja kita pilih makanan berdasarkan panca indera. Selain rasa, kita juga pilih berdasarkan warna, tekstur dan temperatur.


Kita dapat simpulkan bahwa pilihan makan karena beberapa faktor, yaitu:


  1. lingkungan: ekonomi, gaya hidup, tradisi, dan religi;

  2. panca indera: rasa, bau, tekstur dan tampilan makanan;

  3. kognitif: kebiasaan makan, faktor sosial, kebutuhan emosi, nutrisi dan kesehatan, dan iklan;

  4. kesehatan: kekuatan fisik terhadap penyakit yang disebabkan makanan, sensitivitas rasa, usia dan gender

  5. genetik: sensitivitas rasa, kecenderungan untuk suka makanan manis, hindari makanan pahit, kemungkinan ada masalah dengan gigi.

Sumber:

Insel, Paul and friends. 2010. Discovering Nutrition. Ontario: Jones and Bartlett Publishers Canada.


Lihat juga: chinese food, minuman





7/06/2010

Pais Kembung Mangga Muda

Bahan

½ kg ikan kembung segar

1 buah jeruk nipis

1 buah mangga muda, dikupas kemudian diserut halus

1 sendok makan minyak jelantah

daun pisang untuk pembungkusnya


Bumbu yang dihaluskan

10 cabai merah

1 buah tomat

3 butir kemiri

3 siung bawang putih

5 butir bawang merah

2 potong tipis lengkuas

¼ sendok teh terasi

garam secukupnya

gula secukupnya


Cara membuat

*Bersihkan ikan dan biarkan utuh, lumuri dengan air jeruk nipis
*Campurkan mangga dan minyak jelantah bersama bumbu yangsudah dihaluskan. Lumurilah ikan dengan campuran bumbu ini.
*Bungkus ikan dengan daun pisang, kemudian panggang di atas air sampai air ikan tidak menetes lagi. Ini berarti ikan sudah masak. Angkat dan hidangkan.


Catatan:

Dapat juga ikan yang sudah dibungkus dikukus terlebih dahulu sampai matang. Panggang dahulu sebelum dihidangkan.

Sumber: Resep Femina 1990-an

Lihat juga: chinese food, minuman

7/05/2010

Rebus atau Panggang? Pilih Olah Makanan Terkait Gengsi dan Tabu

By: Ratih

Pilihan soal makanan yang direbus atau dipanggang sebenarnya sepele bagi kita. Kita pilih soto dengan potongan daging kecil yang direbus karena kita ingin makan siang dengan menu ini. Lalu kita pilih steak untuk makan malam karena kita terbayang rasa lezat daging has dalam nan empuk yang disajikan dengan saus lada hitam, misalnya. Chinese food atau western food tak masalah. Berbeda dengan masyarakat di ujung sana, di negeri antah berantah pada masa lalu atau masa kini. Pilihan soal makanan yang direbus atau dipanggang menjadi penting karena berkaitan dengan konsep hidup mereka. Soal gengsi dan tabu.

Linguistik mengenal konsep konsonan dan vokal. Konsep ini dikenal pula dalam dunia kuliner. Konsonan bisa diartikan sebagai sesuatu yang tertutup sedangkan vokal berarti terbuka. Segala hal yang berhubungan dengan tata cara masak yang sekiranya tabu, tidak akan dilakukan. Misalnya saja, pilihan antara membakar dan merebus pada suku asli di New Caledonia berkaitan dengan hubungan mereka antara alam dan teknologi. Penggunaan panci dan alat panggang merupakan sebuah gengsi tersendiri. Sebuah bukti peradaban. Teks dari Aristoteles yang ditemukan oleh Salomon Reinach mengindikasikan bahwa orang Yunani dahulu kala selalu memanggang makanan. Suku Poconachi di Meksiko panggang makanan hanya setengah matang karena setengah matang berarti berada di tengah-tengah dunia.
Makanan yang direbus merupakan “endo-cuisine” disediakan untuk kepentingan domestik, kelompok kecil, sedangkan makanan yang dipanggang ialah “exo-cuisine” yang disajikan untuk para tamu. Di Perancis, ayam rebus untuk keluarga sedangkan daging panggang untuk perjamuan tamu.
Pada Suku Guayaki di Paraguay, mereka panggang semua makanan, kecuali saat sebuah ritus kelahiran anak, daging harus direbus. Sedangkan suku Caingang di Brazil melarang daging rebus untuk para janda dan duda atau siapapun yang sudah membunuh musuhnya (Strauss. 1997).

Waduh, serem juga ya Suku Caingang..melibatkan soal bunuh membunuh segala dengan makanan. Pastinya kita disini tidak berhubungan dengan gengsi atau tabu dalam memilih makanan, kecuali tempat makan mana yang kamu pilih. Soal jenis makanan tergantung selera. Beruntunglah kita tidak memiliki aturan baku seperti di masyarakat lainnya yang telah disebutkan tadi. Mau makan apapun tak terkait dengan norma. Jadi nikmati makanan yang jadi pilihan kamu, tentunya dengan pertimbangan rasa, harga dan suasana restoran yang akan didatangi.

Daftar Pustaka:

Levi- Strauss, Claude. 1997. “The Culinary Triangle” dalam Food and Culture. Carole Counihan and Penny van Esterik (Editor). Oxon: Routledge.

Lihat juga: minuman

7/02/2010

Kategori dan Makanan Minuman

By: Ratih

Makanan terdiri dari berbagai macam roti, menu utama dan cemilan berupa keripik atau makanan ringan lain yang biasa dimakan dalam waktu luang. Soal makan pada dasarnya merupakan kebutuhan . Namun menjadi suatu pola hidup yang mencirikan dari lingkungan sosial seperti apa dia berasal. Layaknya pakaian atau parfum, makanan dengan rasa enak dihargai sebagai sebuah bentuk seni yang mahal. Design yang unik dengan ciptaan baru menjadi nilai plus yang membedakan makanan hanya semata untuk isi perut atau makanan yang disantap dengan penuh gengsi. Cara makan steak atau chinese food di restoran mewah tentunya berbeda dengan makan sate di pinggir jalan, bukan? Makan steak dengan table manner lebih rumit dan memerlukan adaptasi bagi mereka yang tidak dibesarkan dalam keluarga yang biasa makan di meja makan. Makan chinese food dengan sumpit pun perlu latihan bagi mereka yang terbiasa hanya menggunakan tangan kosong saat makan.

Pelatihan soal table manner ini biasa dilakukan di sekolah bagi para calon pejabat negeri ini atau sekolah-sekolah kepribadian. Para bapak dan ibu-ibu yang asli Indonesia ini dilatih di restoran sebuah hotel agar mampu bergaul skala internasional. Pengenalan alat-alat makan, tata cara makan hingga cara memilih menu yang tepat. Gaya memotong steak pun ternyata berbeda-beda. Gaya Eropa dan gaya Amerika. Gaya Eropa memotong daging dari luar garpu sedangkan gaya Amerika dari dalam garpu. Bingung? Langsung praktek saja.

Bagaimana dengan minuman? Setiap gelas yang berbeda bentuk diisi oleh minuman yang berbeda pula. Air putih ada di gelas berkaki dengan bulatan paling besar. Anggur putih atau sampanye di gelas ramping, wine di gelas berbentuk bulat kecil atau sloki, cognac di gelas tanpa kaki. Sedangkan teh ada di dalam cangkir. Kopi di dalam mug. Fungsi gelas yang berbeda tak menjadi halangan bagi kita untuk minum apapun dari bentuk gelas yang berbeda-beda. Nampaknya kita memang belum terbiasa dengan kategori-kategori. Segala hal campur baur menjadi satu fungsi.

7/01/2010

Tanggung Jawab Setelah Wedding Party: Masak

Pendamping Chinese Food

Bahan

½ kg udang, dikupas

150 g margarine

100 g bawang bombay, dicincang halus

200 g tepung terigu

2 maggi blok dilarutkan dalam 500 cc air panas

1 sendok the merica halus

garam

100 g keju parut

2 kuning telur

100 g keju parut

2 kuning telur

100 g tepung roti

2 butir telur, dikocok

minyak goreng



Cara membuat

  • Rebus udang kemudian cincang halus

  • Panaskan margarine, tumis bawang bombay sampai baunya harum. Masukkan tepung terigu dan ¼ bagian air larutan maggie. Tunggu sampai mendidih, baru diaduk. Setelah itu masukkan setiap kali 125 cc air maggi, tunggu sampai mendidih, lalu diaduk. Tambahkan merica, garam, keju, dan kuning telur. Aduk sampai rata. Bila adonan bergelembung, tandanya sudah matang, angkat.

  • Tunggu sampai dingin, dan bentuk adonan ini bulat-bulat sebesar baso dengan garis tengah 2 cm. Gulingkan kroket dalam tepung roti, celup dalam telur kocok, lalu gulingkan kembali dalam tepung roti.

  • Goreng sebentar dalam minyak panas sampai warnanya kuning.

Catatan:

Agar kroket tidak pecah waktu digoreng, minyak harus panas betul dan kroket harus terendam minyak.

Sumber: Buku resep Femina tahun 1990-an

Lihat: minuman



6/30/2010

Leuit: Sedia Makan Sebelum Kelaparan

By: Ratih

Soal kebiasaan makan membutuhkan penelitian yang serius sebab hal ini melibatkan berbagai macam aspek budaya masyarakat yang bersangkutan. Soal makan bukan sekedar makan. Ada nilai-nilai yang dianut masyarakat tertentu sehingga makan bersama merupakan sesuatu yang bernilai sosial. Bukan sekedar demi kepentingan makan hari ini saja, kebiasaan menyimpan persediaan makan telah ada sejak ribuan tahun lalu. Lumbung padi merupakan salah satu contoh cara manusia simpan persediaan makan untuk beberapa lama. Pada masyarakat sunda di desa-desa, lumbung padi atau leuit memiliki beberapa kategori khusus. Ada 6 jenis leuit, yaitu:


  1. Ratna laten adalah lumbung padi terbesar untuk menyimpan padi pupuhu sekaligus tempat untuk melaksanakan ritual ;

  2. Leuit rumbia untuk menaruh padi huma (biji padi yang ditanam di ladang);

  3. Leuit biang untuk menaruh padi sawah(benih nandur/ tanam sambil mundur);

  4. 3 buah leuit pangiring sebagai lumbung padi cadangan bila leuit yang lain penuh.

Tentunya perbedaan fungsi setiap leuit mencirikan pula stratifikasi sosial atau tingkatan yang ada dalam masyarakat tersebut. Rakyat biasa tidak bisa seenaknya mengambil padi persediaan milik pupuhu. Ratna laten idealnya memang bukan miliknya pribadi, meski pupuhu mendapat keistimewaan sebagai pemimpin. Seandainya ratna laten hanya dimiliki pupuhu, tentu tidak akan dijadikan sebagai tempat ritual yang bisa dimasuki orang lain dalam rangka perayaan setelah panen. Sayangnya, nilai-nilai sosial dalam masyarakat sunda sekalipun di desa semakin luntur. Kepemilikan bersama bukan lagi menjadi tujuan utama produksi makanan di desa. Semua tergantung usaha sendiri, bergerak masing-masing dalam memproduksi dan mengkonsumsi makanan. Ketimpangan sosial yang mencolok jelas terlihat.


Maka dapatkah kebiasaan makan berubah dengan mudah seiring dengan maraknya jenis makanan baru dari kota? Tentu saja, hal ini tergantung dari kelompok sosial yang mana seorang anak desa berasal. Bila ia berasal dari kelurga kaya raya yang memonopoli kepemilikan sumber pangan di desa, maka bisa jadi akses untuk mengenal makanan fast food demikian mudahnya. Namun, bagi masyarakat kelas bawah yang makan sehari-hari pun sulit, fast food ibarat makanan dari surga yang harga dan rasanya hanya diketahui dari mulut orang lain. Bayangkan saja, orang-orang kecil yang tidak memiliki pekerjaan hanya mengandalkan kemampuan mereka mencari makanan dari sungai atau kebun. Ikan yang bisa ditangkap atau umbi-umbian yang bisa dicerabut akarnya lalu diolah untuk makan sehari-hari. Untunglah kepedulian para pemilik restoran besar pada keadaan masyarakat yang kekurangan seperti itu sudah mulai terlihat. Misalnya saja, kegiatan-kegiatan sosial yang mereka programkan pada waktu tertentu. Program ini biasanya melibatkan selebritis yang turun desa. Acara rakyat yang merakyat justru semakin membesarkan nama restoran yang sebelumnya tak pernah tersentuh masyarakat desa. Kita nantikan gebrakan-gebrakan mengejutkan lainnya dari restoran sebagai leuit orang kota.


Daftar Pustaka:

Counihan, Carole and Penny Van Esterik (eds). 2008. Food and Culture: A Reader. New York: Routledge


Lihat juga: chinese food, minuman

6/29/2010

Kreasi Kepiting

Hidangan laut rasanya kurang lengkap bila tak menyebut hewan yang satu ini. Kepiting. Kepiting memang bisa diolah dengan cara apa saja, meski masakan yang cukup populer adalah aneka makanan chinese food. Namun, kreasi berikut barangkali belum pernah dicoba. Perkedel kepiting.

Bahan

5 ekor kepiting yang besar

350 g kentang

1 sendok teh susu bubuk

margarine

2 butir telur

minyak goreng

Bumbu yang dihaluskan

4 siung bawang putih

25 butir merica

garam

Cara membuat

  • Rebuslah kepiting sampai matang (kurang lebih 45 menit). Sesudah masak, angkat dan dinginkan. Keluarkan daging kepiting dan pisahkan batoknya. Cuci batok sampai bersih.

  • Rebus kentang, kupas dan haluskan. Tambahkan susu bubuk. Aduk dan sisihkan.

  • Panaskan margarine, tumislah bumbu yang sudah dihaluskan sampai baunya harum. Masukkan daging kepiting dan aduk sampai daging kepiting hancur. Angkat.

  • Campurkan kentang pada daging kepiting, masukkan 1 1/2 butir telur yang sudah dikocok ke dalamnya.

  • Olesi bagian dalam batok kepiting dengan sisa telur kocok, isi dengan adonan sampai penuh. Lumuri bagian atas adonan dengan sisa telur kocok.

  • Goreng dalam minyak sampai warnanya kekuning-kuningan.

Untuk 5 buah.



Catatan

  • Supaya cepat mati, celup kepiting dalam air mendidih.

  • Waktu merebus kepiting, jangan lepas tali pengikatnya. Dan taruh sepotong arang dalam air rebusan untuk menghisap racun yang mungkin ada di dalam kepiting.

Sumber: Buku Aneka Resep Femina tahun 1990-an

Lihat juga: minuman

6/25/2010

Sebuah Buku Tentang Syukur

By: Ratih

M.J Ryan menulis buku dengan proses panjang. Lucunya, pada saat ia sedang memberi sentuhan akhir pada bukunya, ia buka kue keberutungan yang pas dengan tulisannya. Di sebuah restoran yang menyediakan chinese food, ia baca isi kue. Tebak apa isinya? “Stop searching. Happiness is just next to you.” Kebahagiaan memang seringkali dicari orang diluar dirinya. Padahal setiap peristiwa yang kita alami tidak selayaknya hanya dilihat sebagai hal negatif. Bagi seorang pesimis, sesuatu yang berjalan lancar hanyalah merupakan kebetulan selanjutnya keburukan menanti. Pada dasarnya, sikap optimis akan kehidupan yang lebih baik, sikap syukur dan selalu lihat sukses yang telah diraih merupakan cara untuk berbahagia.

Pengalaman buruk dalam hidup yang dialami M. J Ryan membuatnya selalu mencari arti kebahagiaan. Keluarga dan teman-teman menjadi tempat pencariannya. Bagaimana mungkin orang lain merasa baik-baik saja, sementara M. J Ryan merasa selalu menderita? Maka ia bertanya-tanya dan mencari jawaban yang benar dengan menjadikan orang-orang sekelilingnya sebagai guru kehidupan. Meski pada akhirnya M. J Ryan mampu bersikap lebih positif, namun tak menjadikannya seorang ahli dalam menjalani kehidupan. Hanya saja, sikap positif dan bersyukur itulah yang sepatutnya kita tiru. Sebuah buku menarik yang dia tulis justru menguatkannya. Ia sadar bahwa orang-orang yang dijadikannya guru justru mereka yang mengalami tantangan berat selagi usia muda. Rasa sakit yang dialaminya mungkin saja tak sebanding dengan sakit yang dialami keluarga dan teman-temannya.

Buku M. J Ryan dijadikan referensi bagi mereka yang ingin menyembuhkan diri dari luka. Maka, buku ini bukanlah buku yang habis sekali baca. Namun buku yang perlu direnungi setelah dibaca satu kali. Bahkan relasinya, Sue Bender merekomendasikan buku ini dibaca setiap hari agar tetap semangat hadapi hari. Jika ingin merasakan efek luar biasa dari sikap syukur, buku ini memang pilihan tepat.

Daftar Pustaka:

Ryan, M. J. 1999. Attitudes of Gratitude: How to Give and Receive Joy Every Day of Your Life. Boston: Conari Press.

6/23/2010

Asem-asem kepiting

Resep Hidangan Laut

Ala Chinese Food- Indonesian

Bahan

  • 5 ekor kepiting

  • 2 sendok makan minyak untuk menumis

  • 6 butir bawang merah, dipotong halus

  • 3 siung bawang putih, dipotong halus

  • 4 cabai merah, dipotong tipis

  • 20 cabai rawit, dibiarkan utuh

  • 2 cm lengkuas, dimemarkan

  • 2 cm jahe, dimemarkan

  • 2 cm kunyit, dipotong jadi 4

  • 1 batang serai, dimemarkan

  • 2 lembar daun salam

  • 1 l air

  • 15 buah belimbing sayur

Cara membuat

  • Siram kepiting dengan air mendidih sampai mati, kemudian sikat sampai bersih. Buang kulit luarnya dan bagian yang tak termakan. Belah tiap kepiting jadi 3 bagian

  • Panaskan minyak, tumis bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, lengkuas, jahe, kunyit, serai dan salam. Masukkan air.

  • Masak sampai mendidih, kemudian masukkan potongan kepiting dan belimbing ke dalamnya

  • Masak terus sampai kepiting matang. Angkat dan hidangkan.


Untuk 6 orang


6/22/2010

Seremoni Makan Bagi Orang Cina

Makan merupakan kegiatan utama bagi Orang Cina. Berikut beberapa seremoni makan:

1.Kedatangan tamu

Biasanya orang kaya akan menerima tamu 5 s.d 7 kali seminggu, sedangkan orang yang berasal dari kelas yang lebih rendah akan menerima 1 s.d 3 kali seminggu. Tuan rumah akan menyediakan makanan sementara tamu menunggu di ruang tamu sambil menikmati kwaci. Kesungkanan tamu akan dianggap sebagai hal biasa saja oleh tuan rumah yang akan mengajak tamu untuk menikmati makanan kecil dengan minuman teh di sore hari atau hidangan chinese food di malam hari.

2.Tahun baru

Tahun baru akan dirayakan dengan cara bertukar makanan antar kerabat atau saling mengundang ke rumah yang dijadikan tempat utama untuk menikmati makanan bersama.

3.Festival perahu naga awal musim panas

4.Festival pertengahan musim gugur

5.Acara ulang tahun

6.Pertemuan dengan teman baru

7.Perpisahan dengan teman

Makan merupakan cara untuk mengawali dan mengakhiri sebuah hubungan bagi Orang Cina. Anak-anak akan meminta makanan sehari sampai dengan 3 kali untuk membuat mereka tetap merasa senang. Pengeluaran terbesar bagi mereka dari setiap tingkat usia bukanlah pengeluaran untuk pendidikan atau buku, melainkan untuk bersantap makanan kecil, makanan utama dan bersosialisasi. Moralitas yang paling penting bagi mereka adalah memberi makanan untuk orang tua. Memasak merupakan hal yang penting bagi para gadis yang telah cukup umur. Perceraian bisa saja terjadi hanya karena sang istri tidak mampu menyiapkan makanan dengan baik. Seorang suami akan merasa sangat bangga bila memiliki istri yang bisa memasak dengan baik. Seorang suami akan mencari istri lain bila mereka tidak memperoleh anak laki-laki dari istri pertama dan membeli sebidang tanah untuk mereka olah. Dengan cara ini mereka akan memperoleh anak laki-laki yang mampu menghias kuburan sang ayah dengan semangkuk nasi dan daging.


Sumber bacaan:

Chen, Zischan. 2005. Food and Chinese Culture. Long River Press: San Fransisco.

6/04/2010

Chinese Food

Chinese Indonesian cuisine is characterized by the mixture of Chinese with local Indonesian style. Chinese dishes modified with addition of chili, santan (coconut milk) and spices form a new Indonesian Chinese cuisine. Some of the dishes and cakes share the same style as in Malaysia and Singapore which are known as the Nonya cuisine by the Peranakan.

The Indonesian Chinese cuisine also vary with locations. For example in different parts of Java the dishes are adapted to local culture. In central Java, the food tends to be much more sweet. In Medan, North Sumatra a more traditional Chinese style can be found.

There are different style of Chinese food in Indonesia:

  • New style Chinese food with chefs from China, Hongkong or Taiwan.
  • traditional Chinese food, such as the Teochew, Hokkian, Hakka dishes.
  • Chinese-Indonesian food with recipes borrowed from Dutch and other European cuisine as well as local cuisine.
  • Chinese dishes adapted to the local taste, such as replacing pork with chicken or beef to make it halal

Some of the typical Chinese Indonesian Food:

  • Bakmi, noodles which are adapted to different styles and regions. Each city has its own recipe for noodles or mie, e.g. Bakmi Bandung, Bakmi Medan, Bakmi Makassar, Bakmi Bangka, etc. 'Bak-Mi' comes from the Hokkien pronunciation for 'Meat-Noodle'.
  • Nasi goreng, fried rice with spices and chili, often add kecap manis, but another variant may differ.
  • Mi goreng, fried noodle with spices and chili darkened with kecap manis.
  • Kwetiau goreng, fried flat noodle similar to char kuay teow.
  • Cap Cai, named for the Hokkian word for a mixture of various types of vegetables. Usually served as stir fried mixed vegetables with chicken when ordered as ala carte.
  • Tahu Goreng, fried Tofu with peanut sauce and chili. 'Tau-Hu' also comes from the Chinese word for 'Bean-Curd'.
  • Pau, which is the Chinese word for 'bun'; sometimes written as Bak-Pau, literally meaning 'Meat-Bun', which is a bun with meat fillings. (Bak is the Hokkien pronunciation for 'meat'.)
  • Bakwan, Bak-Wan is the Hokkien pronunciation for 'Meat-Ball', usually made from beef.
  • Bakso, Bak-So is the Hokkien pronunciation for 'Shredded-Meat'.
  • Sapo, Sa-Po which is the Chinese word for 'Clay-Pot'.
  • Lumpia, a fresh spring roll of Hokkien/Chaozhou-style origin.


Source: www.wikipedia.org